Senin, 26 Desember 2011

Kidung Purwa Jati; Sunan Kalijaga

Kidung Purwa Jati 
dandanggula

Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jin setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Miwah panggawe ala
Gunaning wong luput
geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirna

Merupakan syair yang diciptakan oleh sunan Kali jaga berisi puji dan doa kepada Tuhan agar dihindarkan dari segala macam gangguan. Jika diartikan secara bebas maka makna dari syair diatas kurang lebih sebagai berikut :
ada kidung (lagu) yang menjaga di malam hari. Lagu yang menjadikan kuat selamat terbebas dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin setan-pun tidak mau. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat. Guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuri-pun menjauh dariku. Segala bahaya akan sirna.

Jika kita perhatikan syair dengan makna siatas, maka akan kita dapati bahwa sebenarnya syair diatas adalah doa, yang memohon keselamatan dari segala macam petaka, dan gangguan. Baik itu gangguan dari jenis manusia yang berwujud maling dan sebagainya, atau dalam wujud penyakit dan gangguan dari makhluk-makhluk halus yang biasanya menyerang manusia pada saat malam hari. Itula kenapa lagu ini menjadi perlindungan dan tolak balak di malam hari.
Syair purwa jati diatas berbentuk macapat (tembang kecil) dan jenisnya adalah dandang-gula. Dengan model kidung dandanggula yang sudah familiar di telinga orang Jawa, Sunan Kalijaga menawarkan sebuah doa keselamatan, dan dengan model  kidung atau nyanyian tentunya akan lebih mudah dipahami dan diresapi oleh kaumnya.  Sehingga mereka akan merasa nyaman dengan agama baru yang mereka sandang. Mereka tidak merasa kesulitan, terpaksa atau dipaksa untuk menjadi orang lain.
Karena kidung diatas adalah doa memohon keselamatan maka tentunya akan menjadi doa yang makbul jika di baca dengan yakin, dan meminta hanya kepada Allah swt . karena doa apapun akan mujarab ketika sang pendoa mengerti makna doa yang diucapkan, dan dibaca dengan segenap jiwa.

2 komentar:

andriasmocosmenclewidiantoro mengatakan...

Yo apik apik. Tapi itu bukan suatu alternatif doa, seperti makanan luar yang dikonversi sesuai selera setempat. karena konsep ketuhanan Jawa sebelum islam masuk sebenarnya juga sudah jelas, dan semakin lengkap pula dengan adanya islam, jadi kidung seperti itu juga merupakan doa, namun konsep pemikirannya bukan suatu alternatif lain, namun memang suatu bentuk doa dalam Tradisi jawa. Mator suwon

ZEE ZEE mengatakan...

alternatif dalam konteks Islam, bukan berarti orang Jawa sebelum islam tidak mengenal doa. hanya saja menurut sunan kalijaga doa dengan model ini akan lebih efektif ketimbang menggunakan bahasa lainnya yang mungkin belum bisa dimengerti. nah sebagai alternatif dikaranglah kidung ini, karena menurut Sunan Kalijaga agama adalah masalah kecocokan dan kedamaian batin, jadi tidak perlu dipersulit...(just my one cent opinion)...matur nuwun rawuhipun.....rahayu_/\_

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons